Evolusi kaos terus berjalan, hingga di era 1950-an kaos mulai “naik kelas”. Kaos semakin populer ketika di era itu Marlon Brando (aktor film Amerika) mengenakan T-Shirt berwarna abu-abu yang begitu pas melekat di tubuhnya pada saat berpentas dalam sebuah aksi panggung teater yang berjudul “A Streetcar Named Desire” di Broadway.

Marlon Brando mengenakan kaos abu dalam pementasan teaternya

Tidak lama dari pementasan tersebut, masyarakat dilanda demam kaos. Bukan sekedar mengikuti Marlon Brando atau tren, tetapi kaos menjadi lambang kebebasan anak muda. Disebabkan ada beberapa kalangan yang menganggap kaos hanyalah baju dalaman dan tidak pantas untuk dikenakan sehari-hari sebagai baju luar. Kuatnya idealisme anak muda yang menganggap kaos sebagai simbol kebebasan, berdampak luar biasa. Kaos bukan hanya dikenakan sebagai pakaian sehari-hari, tetapi telah merambah pada tataran status dan jati diri. Mulailah kaos menjadi pakaian kasual yang paling digemari anak muda dan paling modis.

Fenomena tersebut meningkatkan publisitas dan populeritas kaos dalam dunia fashion. Berbagai perusahaan konveksi di kala itu memanfaatkan kondisi tersebut untuk mulai memproduksi kaos secara massal dengan beragam warna dan bentuk. Tidak hanya memproduksi, bahkan perusahaan konveksi besar menggunakan Marlon Brando sebagai model iklannya lengkap dengan mengenakan kaos yang dipadukan dengan celana jeans dan jaket kulit.

Memasuki era 1960-an, kaos telah merajai dunia. Berawal dari kaum hippies yang menjadikan kaos benar-benar sebagai state of fashion. Lebih dari sekedar kebutuhan fashion, kaum hippies bahkan menjadikan kaos sebagai simbol anti kemapanan. Gejala tersebut juga mengilhami kaum punk untuk mengampanyekan idealismenya melalui kaos. Maraknya penggunaan kaos, baik dalam dunia fashion maupun penyampaian idealisme, memicu organisasi politik menjadikan kaos sebagai media propaganda. Mereka percaya semua bentuk ekspresi apapun bisa dengan mudah dicetak di atasnya, tahan lama, dan penyebarannya mampu melewati batas-batas yang tidak bisa dicapai oleh media lainnya, seperti poster.